Selasa, 14 Mei 2013

resensi buku habibie dan ainun


resensi buku habibie dan ainun 

Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi
Judul buku                              : Habibie & Ainun
Penulis                                     : Bacharuddin Jusuf Habibie
Jumlah halaman(Ukuran)        : xii+323(14 cm x 21 cm)
Penerbit                                   : PT. THC Mandiri
Tahun terbit                             : 2010
Cetakan buku                          : Cetakan kedua, Desember 2010, 50.000 eksemplar
Harga                                      : Kisaran Rp 80.000

Sinopsis

            Buku non-fiksi yang ditulis sendiri oleh Presiden RI ke-3, Bapak Habibie ini mengisahkan tentang perjalanan Pak Habibie dari ketika pertemuan pertama beliau dengan Ibu Ainun, setelah sebelumnya beliau lama sekolah di Jerman, yang melahirkan cinta diantara mereka, hingga wafatnya istri beliau tercinta. Saya kisahkan sedikit tentang pertemuan yang menjadi awal lahirnya bahtera rumah tangga mereka.
Sekitar pukul 10 pagi hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, Fanny(J.E. Habibie) adik kandung Pak Habibie mengajak beliau untuk berkunjung ke keluarga Besari di Ciumbeluit Bandung. Keluarga Besari dikenal sebagai  keluarga yang ramah dan intelektual terpelajar. Khusunya Bapak dan Ibu Besari terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan siapapun. Putra-putri keluarga besar Besari bersekolah di SMA-Kristen di Jalan Dago, dimana beliau juga bersekolah. Sahari putra tertua keluarga Besari dari kelas 2 SMA sebagai extrane langsung tamat SMA dan diterima di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang sekarang bernama ITB.

Dengan menggunakan mobil ibu Pak Habibie, beliau bersama Fanny menuju rumah keluarga Besari. Ternyata rumah yang mereka tuju sudah pindah ke Jalan Rangga Malela no. 11 B. Setibanya di rumah keluarga Besari, Fanny tanpa mengajak beliau ikut ke dalam rumah, meninggalkan beliau di mobil sambil mengatakan agar beliau tunggu saja di mobil. Toh nanti akan diajak masuk, jika ternyata tidak mengganggu persiapan untuk malam Takbiran dan Hari Idul Fitri. Tentunya Ibu Besari sibuk dengan berbagai kegiatan.
Hampir setengah jam Pak Habibie menunggu, Fanny tak kunjung datang, dalam keadaan tak menentu itu, beliau keluar dari mobil dan mengetuk pintu sambil berucap Hallo..Hallo..Hallo.. namun tak ada jawaban. Beliau lalu nekat masuk ke dalam rumah. Sewaktu beliau memasuki ruang makan, ternyata Ainun putri bapak Besari duduk seorang diri, ia sedang menjahit dan bercelana panjang “blue jeans”.
Beliau sungguh tak menyangka bertemu Ainun dan nampaknya begitu juga dengan Ainun. Reaksi spontan beliau: “Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!” Ainun kaget pula melihat beliau yang lebih dari 7 tahun tidak bertemu. Dengan tenang dan sambil tersenyum ia bereaksi: “Rudy, kapan kamu tiba dari Jerman?”

Beginilah asal-muasal julukan “gula jawa” tadi. Terkenang tujuh tahun lalu ketika Ainun sedang duduk bersama beberapa wanita sekelasnya menikmati sarapan pagi bersama, tiba-tiba beliau datang mengucapkan kepada Ainun: “Mengapa kamu begitu hitam dan gemuk?” Ainun pada waktu itu hanya kaget beliau datangi dan mengucapkan pertanyaan yang tidak sopan itu. Ia dan kawan-kawannya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saja. Karena kulit Ibu Ainun yang gelap pada waktu itulah yang membuat Pak Habibie menjuluki “gula jawa”.

Itulah sepenggal kisah dalam buku Habibie & Ainun. Kisah yang menjadi awal tumbuhnya cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi.

Secara keseluruhan bahasa yang dipake sebagian besar bahasa ilmiah, meskipun Penulis mengatakan kalau buku ini ditulis dengan gaya mirip novel. Di awal cerita, buku ini banyak menceritakan perjuangan Bapak Habibie yang baru menikah dengan Ibu Ainun hidup di Jerman, dari jatuh-bangunnya Habibie yang sempat jalan kaki pulang-pergi kerja sejauh 15 km hingga beliau meraih prestasi gemilang, yaitu menjadi orang nomor dua di Messerschmidt Bolkow Blohm(MBB), sebuah perusahaan konstruksi ternama di Jerman. Tentunya setelah menjadi besar, Pak Habibie tak lupa tanah air tercinta, Indonesia. Sifat yang patut dicontoh para putera utama bangsa yang berada di luar negeri. Kemudian dari tengah hingga akhir cerita berisikan perjuangan Pak Habibie dan Ibu Ainun ketika ada di Indonesia untuk mengabdi pada Bangsa dan Negara. Nah, agar lebih objekif dalam menilai isi buku berikut saya sertakan pendapat dua tokoh Nasional:
-“Ini adalah sebuah karya yang ditenun dan dibingkai dengan perasaan cinta suci yang mendalam, tulus, dan sarat nilai. Suka-duka penulisnya berdampingan selama 48 tahun dengan Bu Ainun tertumpah-ruah ruah dengan penuh kejujuran dalam karya ini, sebuah karya yang dapat dijadikan ilham bagi para pencari resep spiritual bagi nangunan rumah tanggah sakinah, sesuatu yang tidak mudah bagi kebanyakan kita, termasuk saya.”(Ahmad Syafii Maarif, tokoh PP Muhammadiyah)

 -“Ini sebuah buku yang luar biasa menarik, amat penting, sebuah buku sejarah Indonesia 40 tahun terakhir, kisah pengalaman seorang putera utama bangsa Indonesia, tokoh teknologi yang menjadi tokoh politik, sebuah buku yang indah, yang sekaligus ceritera cinta, cinta yang menjadi rahmat dari Tuhan. Mempesona!”(Frans Magnis-Suseno SJ)
Maaf kalo kalimatnya amburadul.
Semoga bermanfaatJ
Ó2013

0 komentar:

Poskan Komentar